Sejarah Iket Kepala

Tasikmalaja - Bagian Majelis 1923 Bandoeng - Makan Bersama 1902

Iket merupakan jenis tutup kepala tradisional yang terbuat dari kain dan dipakai dengan teknik tertentu seperti dilipat, dilipit, dan disimpulkan sebagai pengikat akhir. Iket dipakai oleh pria dari berbagai kalangan baik ulama, penghulu, pegawai pemerintahan, masyarakat golongan bawah, mulai dari anak usia sekolah sampai orang tua, dan juga bangsawan.

Iket disebut juga totopong yang terbuat dari kain atau boéh atau mori. Totopong merupakan bentuk iket yang lebih rapi. Dulu boéh diartikan kain. Ada yang disebut boéh alus (kain halus), boéh siang (kain merah) dan boéh larang atau kain yang mengandung kekuatan. Sekarang kata boéh berarti kain putih, yang menurut kamus Umum Basa Sunda [4] boéh nyaeta lawon bodas tina kapas (boéh adalah kain putih dari kapas). Kain yang lebih halus dari boéh disebut kaci. Kata boéh sekarang ini mengalami penyempitan makna menjadi kain putih yang dipakai untuk membungkus mayit atau mayat atau yang dikenal dengan kain kafan. Kain untuk iket Sunda selain menggunakan batik, pada jaman dahulu sebelum mengenal batik menggunakan kain polos yang disebut hideungan (kain berwarna hitam) yang dikenal dengan nama Sandelin. Kain ini dapat pula dipakai untuk celana panjang, kamprét, dan calana pangsi.


Selain iket, masyarakat Sunda juga mengenal tutup kepala yang lain yang terbuat dari kain dengan teknik tertentu yaitu teregos dan igal. Teregos merupakan tutup kepala yang terbuat dari kain seperti tutup kepala yang dipakai pada busana orang Arab dan orang India, sedangkan igal merupakan ikat kepala atau alat untuk memperkuat kedudukan sorban. Igal dibuat dari benang sutera atau dari jenis benang lain.

Tutup kepala atau pun semua benda yang digunakan di kepala (headgear) merupakan perlengkapan busana, karena itu perkembangannya pun sejalan dengan perkembangan bidang busana. Seiring dengan fungsi busana, pada mulanya tutup kepala dikenakan untuk melindungi kepala dari sengatan matahari dan guyuran air hujan. Kebiasaan memakai tutup kepala telah berlangsung lama. Pada masa prasejarah orang memanfaatkan tumbuhan berdaun lebar yang tumbuh di sekitarnya untuk menutup kepala. Saat manusia menggunakan kulit kayu sebagai bahan pembuatan busana, tutup kepala dibuat pula dari bahan yang sama dengan cara disambung-sambungkan.

Pengetahuan manusia di bidang teknologi menghasilkan kain yang dapat digunakan sebagai pelengkap berbusana dengan cara diikatkan pada kepala. Penggunaan tutup kepala yang dikaitkan dengan nilai adat istiadat atau pandangan hidup biasanya memiliki arti dan perlambang. Arti dan perlambang dalam tata busana ada sehubungan dengan hadirnya lembaga pemerintah maupun pranata sosial bersamaan dengan munculnya kerajaan pada masa Hindu-Budha, Islam, maupun pemerintahan Kolonial. Pada masa itu lahir bentuk-bentuk tutup kepala yang dapat membedakan kedudukan sosial seseorang. Selain bentuknya, perbedaan-perbedaan tampak dari bahan serta ragam hiasan yang disertakannya.

Tutup kepala diperkirakan muncul pada saat manusia membutuhkan sesuatu untuk melindungi tubuhnya terutama kepala. Untuk mendapatkan pelindung kepala, manusia memanfaatkan bahan-bahan alam yang ada di sekitarnya, seperti tumbuh-tumbuhan yang berdaun lebar yaitu daun keladi dan daun pisang. Tanpa melalui proses pembuatan karena sifatnya yang mudah rusak, daun-daun tersebut dapat langsung dimanfaatkan sebagai pelindung.

Perkembangan berikutnya, pelindung kepala dibuat dari bahan-bahan alam antara lain dari kulit bambu. Beberapa lembar potongan kulit bambu disambungkan dan bentuknya bundar sehingga dapat menutupi bagian kepala. Benda semacam ini disebut dudukuy. Kepandaian masyarakat dalam menganyam telah memperkaya bentuk dudukuy di Jawa Barat dengan munculnya dudukuy cetok. Kini pembuatannya tidak terbatas pada dudukuy saja tetapi berkembang menjadi bentuk-bentuk lainnya antara lain topi bergaya Eropa.

Pemakaian tutup kepala juga dihubungkan dengan etika menghormati atasan atau tokoh yang diagungkan. Hal ini muncul setelah manusia mengenal simbol atau perlambang sebagai perwujudan dari suatu pandangan hidup. Menurut pandangan masyarakat pemimpin atau kepala suku adalah penguasa agung yang mampu mengurus kehidupan sehingga manusia dapat hidup aman, tenteram, dan bahagia. Oleh karena itu pemimpin perlu dijunjung tinggi dan dihormati. Pemakaian iket pada kepala diduga sehubungan dengan adanya kebiasaan kaum pria saat itu untuk memanjangkan rambutnya. Dalam kesehariannya rambut mereka disanggulkan di atas ubun-ubun kemudian kepalanya diikat sedemikian rupa sehingga bila sanggul dilepas rambutnya tidak tergerai.

Status sosial masyarakat Sunda didasarkan pada tiga tingkatan yaitu golongan cacah atau somah (orang kebanyakan), santana (golongan menengah) dan ménak (golongan bangsawan) yang dapat dibedakan dengan pemakaian busananya baik busana utama, busana pelengkap maupun busana penghiasnya. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh budaya Jawa memasuki wilayah Sunda, dalam sejarah penggunaan bahasa Sunda di Tatar Sunda disebutkan kondisi ini terjadi sebagai pengaruh bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda. Pengaruh bahasa Jawa sangat jelas dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh budaya Mataram. Pada masa itu fungsi bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh bahasa Jawa, karena bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi di lingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau undak usuk basa dan kosa kata Jawa masuk pula ke dalam bahasa Sunda yang mengikuti pola bahasa Jawa yang disebut anggah ungguh basa. Dengan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi sosial secara nyata pada masyarakat Sunda.

Pada masa prasejarah orang memanfaatkan tumbuhan berdaun lebar yang tumbuh di sekitarnya untuk menutup kepala. Saat manusia menggunakan kulit kayu sebagai bahan pembuatan busana, tutup kepala dibuat pula dari bahan yang sama dengan cara disambung-sambungkan.Pengetahuan manusia di bidang teknologi menghasilkan kain yang dapat digunakan sebagai pelengkap berbusana dengan cara diikatkan pada kepala.

Penggunaan tutup kepala yang dikaitkan dengan nilai adat istiadat atau pandangan hidup biasanya memiliki arti dan perlambang. Arti dan perlambang dalam tata busana ada sehubungan dengan hadirnya lembaga pemerintah maupun pranata sosial bersamaan dengan munculnya kerajaan pada masa Hindu-Budha, Islam, maupun pemerintahan Kolonial. Pada masa itu lahir bentuk-bentuk tutup kepala yang dapat membedakan kedudukan sosial seseorang. Selain bentuknya, perbedaan-perbedaan tampak dari bahan serta ragam hiasan yang disertakannya.Tutup kepala diperkirakan muncul pada saat manusia membutuhkan sesuatu untuk melindungi tubuhnya terutama kepala. Untuk mendapatkan pelindung kepala, manusia memanfaatkan bahan-bahan alam yang ada di sekitarnya, seperti tumbuh-tumbuhan yang berdaun lebar yaitu daun keladi dan daun pisang. Tanpa melalui proses pembuatan karena sifatnya yang mudah rusak, daun-daun tersebut dapat langsung dimanfaatkan sebagai pelindung.

Perkembangan berikutnya, pelindung kepala dibuat dari bahan-bahan alam antara lain dari kulit bambu. Beberapa lembar potongan kulit bambu disambungkan dan bentuknya bundar sehingga dapat menutupi bagian kepala. Benda semacam ini disebut dudukuy. Kepandaian masyarakat dalam menganyam telah memperkaya bentuk dudukuy di Jawa Barat dengan munculnya dudukuy cetok. Kini pembuatannya tidak terbatas pada dudukuy saja tetapi berkembang menjadi bentuk-bentuk lainnya antara lain topi bergaya Eropa.Pemakaian tutup kepala juga dihubungkan dengan etika menghormati atasan atau tokoh yang diagungkan. Hal ini muncul setelah manusia mengenal simbol atau perlambang sebagai perwujudan dari suatu pandangan hidup.

Menurut pandangan masyarakat pemimpin atau kepala suku adalah penguasa agung yang mampu mengurus kehidupan sehingga manusia dapat hidup aman, tenteram, dan bahagia. Oleh karena itu pemimpin perlu dijunjung tinggi dan dihormati. Pemakaian iket pada kepala diduga sehubungan dengan adanya kebiasaan kaum pria saat itu untuk memanjangkan rambutnya. Dalam kesehariannya rambut mereka disanggulkan di atas ubun-ubun kemudian kepalanya diikat sedemikian rupa sehingga bila sanggul dilepas rambutnya tidak tergerai.

Sumber :  Karakteristik Iket Sunda di Bandung dan Sumedang  ( Suciati )

Posted on April 17, 2013, in Budaya Sunda. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: