Warna Dasar pada Kain Batik Tradisional

Lereng Calung
Motif : Lereng Calung


Warna Tradisonal pada Kain Batik Parahyangan

Warna alami pada kain tenun Sunda diperoleh dengan mencelup kain tenun dengan bahan alam seperti dicelupkan pada leutak (lumpur) untuk memperoleh warna marun (biru kehitaman), pada tarum (nila) untuk memperoleh warna bulao kolot (biru keunguan) dan warna gandaria (ungu kemerah-merahan) serta pada gambir untuk memperoleh warna merah.

Mengenai warna khas Parahyangan seperti ditulis oleh Sulasmi Darmaprawira [11] bahwa warna khas Parahyangan telah banyak diungkapkan dalam bentuk sastra dan puisi atau lagu-lagu Sunda lama seperti Cianjuran dan pada cerita pantun sinyun ada semacam pantun yang disebut sisindiran atau paparikan.
Warna yang dikenal masyarakat Sunda adalah gandaria (ungu), kayas (merah muda), paul (biru ultramarine), héjo paul (biru turquoise). Dikenal pula warna gradasi antara merah dengan biru seperti beureum, kayas kasumba, gandaria, gondola, paul (merah, merah muda, merah muda keunguan, ungu, biru keunguan dan biru ultramarine. Selain itu dikenal pula warna gumading atau gading (krem).

Pada iket dengan motif batik tritik dan berbagai benda lain agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Menurut Hidayat Suryalaga bahwa warna khas Sunda dipengaruhi oleh keadaan topografi. Pada dasarnya Jawa Barat (Sunda) terdiri dari tiga jenis topografi yang membentang dari barat ke timur, yaitu dataran rendah di bagian utara, dataran tinggi di bagian tengah dan perbukitan di bagian selatan. Dari perbedaan topografi ini menghasilkan warna yang biasa dipakai oleh masyarakat pendukungnya. Uraian warna tradisional Sunda dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Bagian selatan merupakan perbukitan yang pada umumnya mata pencaharian masyarakatnya adalah nelayan. Warna yang muncul pada daerah ini antara lain mulai dari merah, kuning, oranye, kuning emas dan perak.
  2. Bagian tengah merupakan daerah dataran tinggi yang masyarakatnya hidup bertani baik berladang maupun bersawah. Warna pada daerah ini umumnya gradasi dari hijau muda sampai hitam pekat.
  3. Bagian dataran rendah merupakan daerah dataran rendah yang masyarakatnya pada umumnya berdagang. Warna pada daerah ini umumnya gradasi dari warna krem sampai coklat tua pekat.

Sumber : Suciati

Iklan

Posted on April 22, 2013, in Budaya Sunda. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: